BAB IV
HASIL KAJIAN
3.3. Hambatan Dalam Pengembangan Perpustakaaan di Masjid Jami’ Dinoyo
Dalam prosesnya mengembangkan perpustakaan, Masjid Jami’ Dinoyo mengalami
berbagai hambatan yang bisa menjadikan ancaman dan tantangan bagi perpustakaan.
Hambatan itu bisa berasal dari luar maupun dari perpustakaan. Di antaranya
adalah :
·
Kurangnya peraturan dan perundang-undangan,
ketatalaksanaan bidang perpustakaan.
Regulasi pemerintah terhadap kebebasan akses informasi merupakan langkah
percepatan proses reformasi. Permasalahan yang ada adalah kebijakan dan
regulasi di bidang perpustakaan sebagai salah satu lembaga informasi yang
paling demokratis masih belum maksimal. Pengaturan kelembagaan perpustakaan
serta perangkat hukum yang mengikat perlu dikembangkan dan ditingkatkan.
Percepatan pembentukan Undang-undang Sistem Nasional Perpustakaan perlu
diupayakan sebagai legalitas dan amanat dalam pengembangan kelembagaan
perpustakaan.
Salah satu penyebab timbulnya perubahan yang sangat mendasar adalah
adanya penerapan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
beserta Undang-undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pusat dan Daerah. Pengaruh diberlakukannya Undang-undang tersebut membawa
dampak signifikan, khususnya terhadap status kelembagaan perpustakaan di
daerah. Sampai saat ini belum adanya regulasi dalam pemantapan kelembagaan
Perpustakaan Daerah, Kabupaten/Kota. Di samping itu, Undang-undang tersebut
juga akan mendasari kebijakan pemerintah pusat sehingga rencana dan program
berada pada daerah masing-masing. Dalam konteks inilah diperlukan kebijakan dan
regulasi pemerintah dalam memberikan arah dalam pengembangan perpustakaan
dengan konteks otonomi daerah.
·
Minimnya Sumber-sumber bahan bacaan.
Dalam mewujudkan masyarakat belajar, ketersediaan sumber bacaan dalam
pemenuhan kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan merupakan indikator
terpenting. Sejak Indonesia dilanda krisis multidimensi, penerbitan buku
nasional mengalami kemunduran signifikan. Rata-rata penerbitan buku dalam
setahun hanya mencapai 2.500-3.000 judul. Permasalahan ini semakin meruncing
ketika sebagian penerbit nasional gulung tikar. Disamping itu rendahnya
penghargaan masyarakat dan pemerintah terhadap penulis juga berpengaruh
terhadap rendahnya kreatifitas penulis dalam menciptakan dan menerbitkan karya
baru. Dalam pada itu, penyebaran buku sebagai sumber informasi masyarakat
menjadi tidak merata sehingga jurang perolehan sumber informasi semakin
meningkat. Keterbatasan sarana bacaan dan ketidakmampuan masyarakat dalam
memperoleh buku bacaan bermutu menjadi masalah utama yang merupakan dampak
mahalnya buku-buku bacaan dan rendahnya daya beli masyarakat.
·
Rendahnya budaya baca masyarakat
Budaya baca masyarakat Indonesia masih tergolong kategori rendah. Membaca
yang merupakan unsur penting dalam pendidikan serta sebagai suatu pilihan dan
kebutuhan dalam transformasi nilai, belum menempatkan posisi yang menguntungkan
sebagai suatu budaya kolektif masyarakat. Potensi masyarakat Dinoyo sangat
besar apabila ditinjau dari jumlah penduduknya yang rata-rata berpendidikan dan
dihuni kelompok pelajar di perguruan tinggi. Seharusnya hal ini memiliki peranan dalam kancah persaingan global.
Fakta tentang hal ini diperkuat oleh United Nations Development Program
pada tahun 2003 yang melaporkan bahwa Human Development Index Indonesia masih
tergolong rendah, yaitu berada pada peringkat 112 dari 175 negara. Terlebih
lagi banyaknya pandangan bahwa membaca hanya akan membuang-buang waktu.
Persepsi ini cenderung muncul dalam pemikirin masyarakat selalu sibuk bekerja
di luar pendidikan. Berbagai faktor yang menyebabkan budaya membaca menjadi
sangat rendah. Salah satunya adalah masih dominannya budaya tutur daripada
budaya baca.
·
Rendahnya partisipasi masyarakat dalam
pembangunan perpustakaan.
Pembangunan dan pengembangan perpustakaan telah banyak menghasilkan
kemajuan yang berarti. Namun, belum semua lapisan masyarakat memiliki akses ke
perpustakaan dan dapat dijangkau oleh layanan perpustakaan. Pembangunan dan
pengembangan perpustakaan harus menjadi kebijakan kolektif Masyarakat
Indonesia. Sebab, melihat kondisi dan kemampuan keuangan negara yang sangat
terbatas, jika hanya mengandalkan partisipasi pemerintah, maka pengembangan
perpustakaan sebagai lembaga informasi rakyat harus menjadi tanggung jawab
kolektif antara masyarakat, pemerintah dan dunia usaha lainnya.
·
Rendahnya respon dan perhatian masyarakat y akan
pentingnya mengunjungi perpustakaan
Perpustakaan yang dalam peranannya merupakan suatu tempat yang berfungsi
untuk meningkatkan budaya membaca dan pengembangkan proses pembelajaran sangat
dipengaruhi oleh bagaimana tanggapan masyarakat terhadap keberadaan
perpustakaan. Perpustakaan dianggap mencapai kesuksesannya ketika banyak
tanggapan positif dari masyarakat. Namun sebagian besar masyarakat yang tinggal
di wilayah yang cenderung menganggap pengembangan kualitas pendidikan merupakan
sesuatu yang tidak untuk dipertahankan. Walaupun diantara mereka ada yang
mengenyam pendidikan formal dan membutuhkan perpustakaan sebagai pendukung
pendidikannya.
Sementara itu ketika perpustakaan telah dibangun di tengah masyarakat dan
tidak mendapat tanggapan positif dari masyarakat sekitar, maka perpustakaan itu
akan sulit untuk berkembang. Sehingga sangat diperlukan kerjasama dengan
masyarakat sekitar dalam pemanfaatan perpustakaan di suatu wialayah.
·
Kurang membaca demografi masyarakat
Disamping
permasalahan tersebut di atas, akar masalah yang menyebabkan statis atau kurang
berjalannya program pengembangan Perpustakaan Desa/Kelurahan adalah karena
proses pengembangannya kurang didasari pada konsep pengembangan perpustakaan
yang ideal berbasis demografi masyarakat.
Dengan kata lain,
jika kita amati masih banyak tahapan atau prosedur pengembangan Perpustakaan
Desa/Kelurahan yang terabaikan. Diantara tahapan penting tersebut adalah
evaluasi kompetensi SDM pengelola perpustakaan dan peletakan tempat yg kurang
strategis. Implikasinya, Perpustakaan Desa/Kelurahan belum bisa menjadi media
pembelajaran dan wadah rekreasi kultural bagi masyarakat sebagaimana
diamanatkan undang-undang, yang berakibat pada banyak Perpustakaan
Desa/Kelurahan yang pada akhirnya tidak berfungsi. Padahal kita tahu bahwa
investasi pemerintah untuk pengembangan Perpustakaan Desa/Kelurahan itu tidak
sedikit.
0 Komentar untuk "PAR (PARTICIPATORY ACTION RESEARCH ASSIGNMENT) “MEMBANGUN KESADARAN MASYARAKAT MELALUI PARTISIPASI DALAM MENGEMBANGKAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI WINDOW OF KNOWLEDGE (JENDELA ILMU PENGETAHUAN) DI MASJID JAMI’ DINOYO MALANG”"