V.
Hal-hal yang Perlu Mendapat Perhatian dalam Menjalin Hubungan dengan Lansia
Hal-halyang Perlu Mendapat Perhatian
dalam Menjalin Hubungan dengan Lansia adalah sebagai berikut:
1. Lingkungan (fisik dan psikologis)
a. Siapkan area yang adekuat.contoh:
klien di kursi roda
b. Suasana tenang dan tidak
ribut/bising. Contoh: suara TV, radio
c. Nyaman dan tidak panas
d. Gunakan cahaya yang agak
redup,hindari cahaya langsung
e. Tempatkan pada posisi yang nyaman
bila berganti posisi atau tanyakan apakah ingin di tempat tidur
f. Sediakan waktu yang cukup dan air
minum
g. Privasi harus dijaga
h. Perhitungkan tingkat energi dan
kemampuan klien
i. Sabar, rileks, dan tidak
terburu-buru. Beri klien waktu untuk menjawab pertanyaan
j. Perhatikan tanda-tanda kelelahan
(mengeluh, respons menjadi lambat, mengerut, dan tersinggung)
k. Rencanakan apa yang akan dikaji
l. Melakukan pengkajian pada saat
energi klien meningkat. Contoh: sehabis makan
2. Interviewer (sikap perawat:
perasaan, nilai, dan kepercayaan)
a. Mengetahui mitos-mitos seputar
lansia
b. Menjelaskan tujuan wawancara
c. Menggunakan berbagai teknik untuk
mengimbangi kebutuhan pengumpulan data dengan kepentingan klien
d. Mencatat data harus seizin klien
e. Pada awal interaksi perawat harus
merencanakan bersama klien cara yang paling efektif dan nyaman
f. Menggunakan sentuhan
g. Sesuaikan situasi dan kondisi
wawancara
h. Bicara tidak terlalu keras
3. Klien
a. Beberapa kultur yang memengaruhi
kemampuan klien untuk berpartisipasi sangat berarti dalam wawancara.
b. Faktor-faktor yang memengaruhi
proses penuaan adalah hereditas, nutrisi, status kesehatan, pengalaman hidup, lingkungan
dan stres.
c. Perawat harus menyadari
faktor-faktor ini karena kemampuan lansia untuk mengkomunikasikan semua
informasi penting sangat ditentukan oleh kelengkapan dan kesesuaian
wawancara.
C. Asuhan Keperawatan Pada Lansia
Proses keperawatan pada lansia
meliputi hal-hal dibawah ini:
1. Pengkajian
Status kesehatan pada lansia
dikaji secara komprehensif, akurat dan sistematis. Informasi yang dikumpulkan
selama pengkajian harus dapat dipahami dan didiskusikan dengan anggota tim, keluarga
klien, dan pemberi pelayanan interdisipliner.
Tujuan dari melakukan pengkajian
adalah untuk menentukan kemampuan klien dalam memelihara diri sendiri,
melengkapi data dasar untuk membuat rencana keperawatan, serta memberi waktu
pada klien untuk berkomunikasi. Pengkajian ini meliputi aspek fisik, psikis,
sosial, dan spiritual dengan melakukan kegiatan pengumpulan data melalui
wawancara, observasi dan pemeriksaan (CGA: comprehensive geriatric assessment).
Pengkajian pada lansia yang ada di
keluarga dilakukan dengan melibatkan keluarga sebagai orang terdekat yang
mengetahui tentang masalah kesehatan lansia. Sedangkan pengkajian pada kelompok
lansia di panti ataupun di masyarakat dilakukan dengan melibatkan penanggung
jawab kelompok lansia, kultural, tokoh masyarakat, serta petugas kesehatan.
Untuk itu, format pengkajian yang
digunakan adalah format pengkajian pada lansia yang dikembangkan sesuai dengan
keberadaan lansia. Format yang dikembangkan minimal terdiri atas: data dasar
(identitas, alamat, usia, pendidikan, pekerjaan, agama dan
suku bangsa); data biopsikososial, spiritual, kultural; lingkungan; status
fungsional; fasilitas penunjang kesehatan yang ada; serta pemeriksaan fisik.
2. Diagnosis Keperawatan
Perawat menggunakan hasil
pengkajian untuk menentukan diagnosis keperawatan. Diagnosis keperawatan dapat
berupa diagnosis keperawatan individu, diagnosis keperawatan keluarga dengan
lansia, ataupun diagnosis keperawatan pada kelompok lansia.
Masalah keperawatan yang
dijumpai antara lain gangguan nutrisi: kurang/lebih; gangguan persepsi
sensorik; pendengaran, penglihatan; kurangnya perawatan diri; intoleransi
aktivitas;gangguan pola tidur; perubahan pola eliminasi; gangguan mobilitas
fisik; risiko cedera; isolasi sosial; menarik diri; harga diri rendah; cemas;
reaksi berduka; marah; serta penolakan terhadap proses penuaan.
Contoh diagnosis keperawatan lansia
dengan masalah keperawatan gangguan sensori persepsi: penglihatan adalah
sebagai berikut:
a. Diagnosis keperawatan pada lansia
secara individu: gangguan sensori-persepsi: penglihatan yang berhubungan dengan
penurunan ketajaman penglihatan.
b. Diagnosis keperawatan pada keluarga
dengan lansia: gangguan sensori persepsi: pada ibu S di keluarga bapak A yang
berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat lansia dengan katarak.
c. Diagnosis keperawatan pada kelompok
lansia di panti: risiko cedera pada kelompok lansia di panti X yang berhubungan
dengan penurunan penglihatan ditandai dengan 80% lansia di panti X mengatakan
tidak dapat melihat jauh, 20% lansia di panti X pernah jatuh diselokan karena
tidak melihat jalan dengan jelas, 80% lansia di panti X tampak lensa matanya
keruh.
3. Rencana Keperawatan
Perawat mengembangkan rencana
pelayanan yang berhubungan dengan lansia dan hal-hal lain yang berkaitan.
Tujuan, prioritas, serta pendekatan keperawatan yang digunakan dalam rencana
perawatan termasuk didalamnya kepentingan terapeutik, promotif, preventif, dan
rehabilitatif.
Rencana keperawatan membantu klien
memperoleh dan mempertahankan kesehatan pada tingkatan yang paling tinggi,
kesejahteraan dan kualitas hidup dapat tercapai, demikian juga halnya untuk
menjelang kematian secara damai. Rencana dibuat untuk keberlangsungan pelayanan
dalam waktu yang tak terbatas, sesuai dengan respons atau kebutuhan klien.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyusun rencana
keperawatan.
a. Sesuaikan dengan tujuan yang
spesifik di mana diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar.
b. Libatkan klien dan keluarga dalam
perencanaan.
c. Kolaborasi dengan profesi kesehatan
yang terkait.
d. Tentukan prioritas.klien mungkin
sudah puas dengan kondisinya, bangkitkan perubahan tetapi jangan dipaksakan,
rasa aman dan nyaman adalah yang utama
e. Sediakan waktu yang cukup untuk
klien.
f. Dokumentasikan rencana keperawatan
yang telah dibuat.
4.
Tindakan Keperawatan
Perawat melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana perawatan yang
telah dibuat. Perawat memberikan pelayanan kesehatan untuk memelihara kemampuan
fungsional lansia dan mencegah komplikasi serta meningkatkan ketidakmampuan.
Tindakan keperawatan berdasarkan rencana keperawatan dari setiap diagnosis
keperawatan yang telah dibuat dengan didasarkan pada konsep asuhan keperawatan
gerontik. Tindakan keperawatan yang dilakukan pada lansia:
a. Menumbuhkan dan
membina hubungan saling percaya dengan cara memanggil nama klien.
b. Menyediakan
penerangan yang cukup: cahaya matahari, ventilasi rumah, hindarkan dari cahaya
yang silau, penerangan di kamar mandi, dapur, dan ruangan lain sepanjang waktu.
c. Meningkatkan
rangsangan pancaindra melalui buku-buku yang dicetak besar dan berikan warna
yang dapat dilihat.
d. Mempertahankan
dan melatih daya orientasi realita: kalender, jam, foto-foto, serta banyaknya
jumlah kunjungan.
e. Memberikan
perawatan sirkulasi: hindari pakaian yang sempit, mengikat/menekan, mengubah
posisi, dukung untuk melakukan aktivitas, serta melakukan penggosokan
pelan-pelan waktu mandi.
f. Memberikan
perawatan pernapasan dengan membersihkan hidung, melindungi dari angin, dan
meningkatkan aktivitas pernapasan dengan latihan napas dalam (latihan batuk).
Hati-hati dengan terapi oksigen, perhatikan tanda-tanda gelisah, keringat
berlebihan, gangguan penglihatan, kejang otot, dan hipotensi.
g. Memberikan
perawatan pada organ pencernaan: beri makan porsi kecil tapi sering, beri makan
yang menarik dan dalam keadaan hangat, sediakan makanan yang disukai, makanan
yang cukup cairan, banyak makan sayur dan buah, berikan makanan yang tidak
membentuk gas, serta sikap fowler waktu makan.
h. Memberikan
perawatan genitourinaria dengan mencegah inkontinensia dengan menjelaskan dan
memotivasiklien untuk BAK tiap 2 jam serta observasi jumlah urine pada saat akan
tidur. Untuk seksualitas, sediakan waktu untuk konsultasi.
i. Memberikan
perawatan kulit. Mandi: gunakan sabun yang mengandung lemak, hindari menggosok
kulit dengan keras, potong kuku tangan dan kaki, hindari menggarukdengan keras,
serta berikan pelembap (lotion) untuk kulit.
j. Memberikan
perawatan muskuloskeletal: bergerak dengan keterbatasan, ubah posisi tiap 2
jam, cegah osteoporosis dengan latihan aktif/pasif, serta anjurkan keluarga
untuk membuat klien mandiri.
k. Memberikan perawatan
psikososial: jelaskan dan motivasi untuk sosialisasi, bantu dalam memilih dan
mengikuti aktivitas, fasilitasi pembicaraan, sentuhan pada tangan untuk
memelihara rasa percaya, berikan penghargaan, serta bersikap empati.
l. Memelihara
keselamatan: usahakan agar pagar tempat tidur (pengaman) tetap dipasang, posisi
tempat tidur yang rendah, kamar dan lantai tidak berantakan dan licin, cukup
penerangan, bantu untuk berdiri, serta berikan penyangga pada waktu berdiri
bila diperlukan.
0 Komentar untuk "ADL Pada Lansia"